Tuesday, May 22nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Mozaik Sosok

Sosok

Mencari Tuhan Tanpa Banyak Bertanya

E-mail Print PDF

Dr. Tun Kurniasih Bastaman Sp.KJ(K)

Perjalanan manusia dalam menemukan Tuhannya berbeda-beda. Salah satunya perjalanan Dr.Tun Kurniasih Bastaman Sp.KJ atau akrab disapa kak Tutun. Ia merasakan, justru karena kesederhanaan tanpa banyak bertanya, ia diberikan banyak kemudahan. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) periode 2009-2013 ini menuturkan bagaimana perjalanannya dalam bersurau.

Selalu Berprasangka Baik

E-mail Print PDF

H. Suwidya Abdullah, SH, LLM

Jamaah Surau Baitul Amin ini mengaku tidak pantas untuk bercerita tentang proses dan pengalaman saat bersurau. “Malu dengan jamaah yang lain,” katanya. Namun setelah berbincang cukup lama, hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini mengungkapkan banyak kisah, termasuk proses panjangnya untuk istiqomah ber-surau.

Sebelum kami berbincang, empunya rumah yang pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri Depok itu mengajak kami berdua makan siang (tim Mozaik -red). "Sebelum wawancara kita makan dulu, kalau sudah makan di sini harus makan lagi," ajak Bang Widya yang tampil kasual siang itu.

Menu makan siang yang tersaji di atas meja makan itu bersahaja. Tempe berlapis tepung, telor mata sapi dan semangkuk sayur lodeh.
Kami bertiga menikmati makan siang di antara puluhan buku yang berjajar di beberapa lemari buku.

Mulai buku agama, buku-buku hukum sampai tetralogi Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer. "Saya membaca semua bukunya, anak saya juga suka," cerita H. Suwidya Abdullah, SH, LLM.

Ia bercerita bahwa buku seringkali ia gunakan sebagai jembatan untuk menjelaskan sesuatu ke anakanaknya.

"Saat menjelaskan sesuatu saya selalu memakai referensi, salah satu referensi adalah buku. Misalkan saya menjelaskan suatu hal, coba lihat di buku ini halaman ini," jelasnya. Kami kemudian berbincang panjang lebar di antara buku-buku itu.

Ia mengawali cerita bagaimana ia masuk surau. “Saya menjadi pengamal tarekat Naqsyabandiyah tahun 1995. Saat itu saya mencari pegangan hidup, kemudian saya bertemu surau,” katanya mengawali pembicaraan.

Sambil menyulut sebatang rokok ia melanjutkan ceritanya, saat pertama kali kerja di dunia peradilan tahun 1991. “Tiga tahun pertama saya mengalami goncangan yang sangat berat karena ada nilai-nilai keagamaan tidak akomodatif,” kata dia. Bahkan menurut Bang Widya, panggilan akrab di surau, dirinya sempat menekuni ilmu tenaga dalam. “Itu dulu juga untuk mendukung pekerjaan saya,” jelasnya.

Seorang saudaranya yang mengenalkan dirinya ke surau. “Waktu itu saya di Yogyakarta, saat liburan Idul Fitri 1995, saya dikenalkan oleh saudara yang dulunya juga menekuni tenaga dalam.” Berangkatlah ia ke Semarang, ia pun masuk di sana. Bapak dari tiga anak ini merasa bahwa surau adalah jawaban setelah ia sekian lama berproses mencari Tuhan. Prosesnya juga tidak mudah karena ia mengalami banyak peristiwa sebelum menemukan surau.

“Saya lama mencari. Saya selalu mencari guru mengaji mengenai hakim dan islam,” katanya. Itu terjadi saat ia bertugas di Ketapang, Kalimantan Barat dimana ia mengawali karir. Saat itu Bang Widya belajar kepada seorang hakim pengadilan agama di Ketapang. “Dia sufi juga. Orang yang konsisten, ia menolak hadiah yang tidak jelas asal-usulnya.

Termasuk dari kantornya,” kenangnya. Si hakim pengadilan ini meminta ke pimpinannya untuk pindah karena tidak nyaman dengan suasana kantor. Oleh kepala pengadilan ia diminta mengundurkan diri, karena tidak mau repot dengan urusan birokrasi. Hakim itupun menyampaikan surat pengunduran diri. Namun bukan surat keputusan penghentian yang turun melainkan surat pengangkatan sebagai wakil kepala pengadilan agama.

“Contoh orang yang komitmen. Secara fisik saya sekarang tidak berhubungan, namun secara batin mengilhami saya,” tuturnya. Ia juga sempat berkonsultasi dengan seorang ketua Majelis Ulama Indonesia di daerah itu, yang juga belajar tasawuf. “Saya belum menemukan satu figur atau sistem yang membuat kita bisa (percaya-red). Lalu ada saudara yang bercerita surau akhirnya saya ke Semarang,” katanya dia lagi.

Dirinya merasa apa yang ia cari, “Di Surau saya menemukan lingkungan, sistem pendidikan yang mendekatkan diri saya kepada Allah.” Dirinya juga merasa banyak karunia yang menarik saat ia ber-surau. Salah satu yang paling menarik adalah saat dirinya mendapat beasiswa ke Inggris, ke University of Sheffield. “Itu di luar nalar saya.

Saya pikir itu puncak fenomena. Pertama umur melewati persaingan bebas. IP (Indeks Prestasi -red) rendah dan di jabatan yang jarang mendapat beasiswa. Kalo tes bersaing pasti kalah. Mau tidak mau saya kaitkan perjalanan kesurauan saya,” terangnya. Apalagi saat itu dalam kondisi keuangan yang kurang baik karena baru memindahkan keluarganya ke tempat kerjanya di Sulawesi.

Bekerja di lingkungan peradilan juga membuatnya untuk selalu berprasangka baik. “Tidak boleh su’udzon. Di dunia hukum ada istilah The presumption of innocence, praduga tak bersalah. Kita harus menganggap terdakwa belum bersalah sampai diputuskan,” kata dia lagi. Bahkan menurutnya orang yang telah dihukumpun tidak boleh dipandang rendah. “Bukan pada orangnya, tapi apa yang ia lakukan.

Itu kan akhlakul karimah,” ujarnya lagi. Hal yang paling berat menurutnya adalah jika buktinya tipis. “Itu yang membuat saya pergi ke surau, mencari Tuhan karena pekerjaan saya berat.” (NAV/JH)

Iman ‘J-Rocks’ Mencari Tuhan

E-mail Print PDF

Iman Taufik Rahman

Semua kegelapan harus aku tembus, semua kerumitan harus aku hadapi, dan aku senantiasa menyelidiki benar-benar setiap aqidah dan setiap golongan, aku berusaha sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan semua rahasia mazhab/golongan/aliran pada masing-masingnya, agar aku dapat membedakan mana yang benar dan mana palsu, mana yang mengikuti sunnah dan mana pula yang bid’ah (tidak mengikuti sunnah).

Pamit Berburu, Padahal Berguru

E-mail Print PDF

Prof. Jamaan NurPada 12 - 14 Agustus 2009 lalu, petugas dari Surau Baitul Amin Sawangan yang terdiri dari Abang H. Abdul Mujib dan H. Rahmat Sihombing melakukan lawatan ke Bengkulu, untuk berdiskusi seputar tarekat dengan Prof. DR. H. Djamaan Nur, Guru Besar UIN Bengkulu dan penulis buku Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. DR. H. Kadirun Yahya. Untuk mencatat hasil diskusi, Mozaik menugaskan Bambang Mulyantono dan Suyadi Yusuf menyertai lawatan tersebut. Di sela-sela waktu senggang diskusi, Mozaik mewawancarai Imam Masjid Bengkulu yang sempat menekuni hobi berburu dan main golf ini.

Al-Habsyi: Dai Pedongeng

E-mail Print PDF

dai pnedongeng

Wajahnya tak asing di layar kaca, beberapa stasiun televisi menjadikannya bintang dakwah. Lelaki berhidung mancung ini sudah 'beredar' di stasiun-stasiun televisi di Indonesia sejak tahun 2005. Acara pertamanya adalah membawakan kisah para Nabi. Tak hanya model acara dakwah serius yang ia garap, model dakwah yang fun ia jalani dalam beberapa program antara lain yang pernah tayang di Trans  7. “Ada surga di sekolahku”

Ahmad Farqi: Tarekat untuk Shalat Khusuk

E-mail Print PDF

Ahmad Farqi

Tulisan utama tentang tasawuf dan tarekat yang dimuat Mozaik beberapa edisi lalu sesungguhnya merujuk pada makalah dan  hasil  wawancara dengan Drs. H. Ahmad Farki ini, yang kemudian dilengkapi dengan narasumber dan literature lain.

Drs. H. Ahmad Farki yang akrab disapa dengan Bang Ifer adalah salah satu putra pendiri yayasan. Minat dan pemahamannya terhadap sejarah peradaban manusia, menjadikan dia sebagai narasumber yang menarik dalam forum diskusi, seminar atau pelatihan. Berikut petikan wawancara dengan ‘ahli sejarah’ yang juga pengusaha perkebunan sawit dan peternakan sapi ini.

Tasawuf, Dunia yang Terbuka

E-mail Print PDF

asep usmanPada acara Silaturahmi Da’i yang diselenggarakan Surau Baitul Amin Sawangan, 14-15 Pebruari 2009 lalu, hadir seorang narasumber dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Beliau adalah Dr. Asep Usman Ismail, M.A., dosen tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi (UIN) Syarif Hidayatullah. Seusai menyampaikan materi berjudul "Memahami Dakwah Sufistik" pria kelahiran Sukabumi, 20 Juli 1960 ini menerima permintaan Mozaik Surau untuk wawancara. Berikut petikan wawancara dengan pengamal Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) di Suryalaya, Jawa Barat ini

Murid yang Pendidik

E-mail Print PDF

jamaan nurProf. Dr. KH. Djamaan Nur.Melihat dari sejarah hidup Prof. Dr. KH. Djamaan Nur, tercermin kehidupan ulama, akademisi dan aktivis sosial sekaligus. Selepas dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, beliau langsung mengajar di IAIN Raden Patah di Bengkulu. Pernah jadi Dekan Fakultas Syariah IAIN di Bengkulu. Dan tahun 1995 putra pasangan Faqil Nurdin dan Hj Rahimah ini diangkat sebagai guru besar madya.

Mengawal Perkembangan Ragam Tarekat

E-mail Print PDF

Habib Luthfi

KH Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau yang akrab disapa Habib Luthfi adalah pemimpin perkumpulan tarekat-tarekat dalam Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) itu.  Para petinggi Indonesia tidak sedikit yang meluangkan waktunya guna bertemu dengan beliau. Paling baru adalah saat Wakil Presiden Yusuf Kalla menghadiri Munas Jatman yang diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Juni lalu. Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudoyono juga pernah menyambangi kediamannya.

Akrab dengan Tasawuf

E-mail Print PDF

tasawufDulu pendiri Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya ini menggelar seminar dari kampus ke kampus dengan tujuan mengenalkan tasawuf kepada kalangan akademisi. Kini para penerusnya  menjalankan misi yang sama untuk masyarakat yang lebih luas, salah satunya dengan menyelenggarakan tabligh akbar.

Masih segar dalam ingatan 5.000-an orang yang hadir. Pada 16 November 2008 lalu Surau Baitul Amin Sawangan - Depok menyelenggarakan tabligh akbar dengan tema "Bersama Menuju Muslim Kaffah."  Tausyiah yang disampaikan Syeikh KH. Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya selaku Ro'is A'am Jami'iyyah Ahlith Thariqah Al Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), da'i muda Ustadz Ahmad Al-Habsyi, Prof. Dr. KH Djamaan Nur - Guru Besar STAIN Bengkulu, dan Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, kiranya menambah pemahaman bagi jamaah dan masyarakat luas tentang ajaran Islam yang kaffah itu. Sehingga apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan menjadikan muslim yang kaffah.