
Dalam Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, Imam Ja’far ash-Shadiq RA berada pada urutan ke-4 silsilah keguruan. Beliau benar-benar guru spiritual yang mampu menyatukan umat Islam.
Pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW berpulang keharibaan Allah SWT, adalah para Khulafa’ur Rasyidin, berkuasa selama 30 tahun. Diawali saat Sayyidina Abu Bakar RA menjadi khalifah hingga saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA mengakhiri jabatannya pada tahun 662 Masehi. Umat Islam dikala itu berada dalam kepemimpinan yang terbimbing; mewujudkan intelektualitas, aspek lahiriah, moral, akhlak dan hidup sederhana.
Bagi Khulafa’ur Rasyidin kekuasaan benar-benar merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau-beliau itu tidak tertarik kemewahan. Mereka berpihak kepada rakyat, berkomitmen kepada dhuafa, punya kepedulian, punya tanggung jawab, punya kejujuran. Mereka membangun sebuah sistem ke-khalifahan yang ideal. Ketika sistem ke-khalifahan jatuh ke tangan Bani Umayyah yang didirikan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (661 M) sampai ditumbangkan Abul Abbas as-Saffah dari Bani Abbas (750), saat itu terjadi pergeseran mentalitas.
Salah satunya Mu’awiyah sendiri berkantor di bangunan mewah bekas peninggalan Gubernur Jenderal Romawi di Damaskus. Para khalifah menguasai lahan dan tanah yang luas. Hal ini membuat mereka bergeser dari akhlak Islam yang sederhana, karimah dan penuh keteladanan, kepada perilaku yang sebaliknya. Kondisi ini mengundang keprihatinan sahabat dan tabi’in. Salah satu tabi’in yang vokal adalah Hasan Al Basri.
Beliau lahir di Madinah sepuluh tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Beliau mengajak umat untuk kembali kepada akhlak Nabi, dan menulis surat kepada penguasa untuk mewujudkan hidup yang sederhana yaitu dengan memakai jubah yang terbuat dari bulu domba (wol) kasar sebagai simbol kesederhanaan. Tujuannya, menyadarkan pejabat dan rakyat untuk mewujudkan kembali kesederhanaan
yang diperlihatkan para Khulafa’ur Rasyidin dan sahabat-sahabat utama. Latar belakang sejarah ini menunjukkan inti tasawuf sebagai gerakan moral untuk mengembalikan tatanan negara dan umat pada akhlak yang mulia.
Di periode selanjutnya, di Madinah terkenal seorang zahid, atau mempunyai sifat zuhud, yang secara harfiah maknanya meninggalkan kehidupan dunia yang bersifat materi dan menekuni hal-hal yang bersifat rohani. Seseorang tersebut bernama Imam Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin AbiThalib, dan lebih dikenal dengan nama Imam Ja’far ash-Shadiq. Ayah Imam Ja’far ash-Shadiq adalah Imam Muhammad Baqir bin Zainal Abidin bin Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. Ibunya adalah cucu Sayyidina Abu Bakar Shiddiq RA, Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Sayyidina Abu Bakar Shiddiq RA.
Imam Ja’far lahir di Madinah pada 17 Rabiul Awal 83 H/702 M dan meninggal dunia pada 148 H/767 M. Ia diberi julukan ash-Shadiq karena sikap kejujurannya, dan dikenal dengan panggilan Abu Abd Allah. Ia hidup pada masa akhir Dinasti Umayyah (40-I20 H/66I-737 M) dan awal Dinasti Abbasiyah (I20-350 H/737-96I M). Keretakan internal Dinasti Umayyah telah memberikan keleluasaan bagi Imam Ja’far untuk menyebarkan ajaran-ajarannya.
Imam Ja’far sejak kecil hingga usia sembilan belas tahun berada dalam didikan ayahnya. Setelah kesyahidan ayahnya pada 114 H/732 M, Imam Ja’far menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin spiritual. Masjid Nabawi di Madinah merupakan pusat kegiatan ilmiah Imam Ja’far. Beliau memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya dalam keilmuan dan berhasil membentuk sebuah ‘hawzah’ pemikiran di masjid tersebut.
Dari aktivitas ilmiah ini telah lahir fuqaha (para ahli hukum Islam) dan para pemimpin kaliber dunia. Warisan ilmu pengetahuan yang sangat berharga memberikan peran penting perkembangan kajian-kajian keilmuan Islam, baik bagi kalangan Sunni maupun Syi’ah. Ekses kebijaksaan politik yang terjadi pada masa Dinasti Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah menyebabkan terjadinya penyelewengan pada banyak sektor, termasuk pendidikan akidah pada masyarakat.
Penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia dan India, serta munculnya aliran-aliran ekstrem dalam Islam, juga pemalsuan hadits, memberi-kan kontribusi besar pada berkembangnya kekufuran dan aliran-aliran sesat. Aliran-aliran inilah yang telah menyiapkan lapangan bagi tumbuhnya banyak penyelewengan saat itu. Imam Ja’far menyikapi kondisi tersebut dengan mengadakan dialog terbuka, sehingga alur pemikirannya diketahui oleh khalayak ramai.
Tujuan utama dakwahnya adalah untuk menyelamatkan umat manusia dari jurang kebodohan, menguatkan keyakinan mereka terhadap Islam, mempersiapkan mereka untuk melawan kekufuran dan syubhat yang menyesatkan dan menangani segala problema yang muncul akibat ulah penguasa waktu itu. Dalam masalah politik, Imam Ja’far memerintahkan kepada para pengikutnya untuk tidak berlindung kepada penguasa zalim dan melarang mereka mengadakan kerjasama dalam bentuk apapun dengannya.
Ia juga mewasiatkan kepada muridmuridnya untuk melakukan taqiyyah supaya para musuh tidak menyoroti gerak-gerik mereka, serta tidak menghambat aktivitas keilmuan mereka. Secara terminologi, berbagai sumber mengartikan taqiyyah sebagai menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya di tengahtengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka.
Selain itu, Imam Ja’far menganjurkan kepada semua masyarakat untuk mendukung perlawanan yang dipelopori oleh Zayd ibn Ali melawan Dinasti Bani Umayyah. Ketika berita kematian Zayd ibn Ali sampai kepadanya, ia sangat terpukul dan sedih. Ia memberikan santunan kepada setiap keluarga yang suaminya ikut berperang bersama Zayd ibn Ali sebesar seribu dinar. Begitu juga, ketika pemberontakan Bani al-Hasan mengalami kekalahan total, ia sangat sedih dan menyayangkan ketidakikutsertaan masyarakat dalam pemberontakan tersebut.
Meskipun demikian, ia enggan untuk merebut kekuasaan. Hal ini ditangguhkannya sehingga umat betul-betul siap untuk mengadakan sebuah perombakan besarbesaran, ia dapat menyetir alur pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan dapat memperbaiki realita politik dan sosial yang rusak. Intelektual Yang Tersohor Di antara murid-muridnya yang ternama adalah Hisyam ibn Hakam, penulis kitab al-Ra’d ala al-Mu’tazilah, Mu’min al-Taq, penulis kitab al-Imamah, Talhah wa A’isyah, al-Ma’rifah dan kitab Fi AyyamHarun al-Rasyid, Muhammad ibn Muslim al-Zuhri, serta Zurarah ibn A’yan, salah seorang ahli fikih.
Tokoh ternama yang menimba ilmu dari Imam Ja’far adalah Malik ibn Anas, Abu Hanifah, Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybani, Sufyan al-Tsawri, Ibn Uyaynah, Yahya ibn Sa’id, ahli fikih Madinah, Ayyub al-Sukhtiyani, Syu’bah ibn Hajjaj, dan lain-lain. Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Yahya al-Ansari meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far. Menurut Fatih Guven, ‘hawzah’ Imam Ja’far dihadiri ribuan ilmuwan, selain para ahli di atas, juga Jabir ibn Hayyan al-Tusi, seorang ahli matematika dan Mu’min al-Taq, seorang ulama yang sangat disegani.
Gebrakan ilmiah Imam Ja’far telah berhasil menguasai seluruh penjuru negeri Islam sehingga keluasan ilmunya dikenal di seluruh penjuru negara dan menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan, salah seorang muridnya mengatakan, “Di masjid ini (masjid Kufah) ada 900 syaikh mengatakan telah meriwayatkan hadis dari Ja’far ibn Muhammad.” Imam Abu Hanifah berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih pintar dari Ja’far ibn Muhammad.” Imam Malik, pemimpin dan imam Mazhab Maliki pernah berkata, “Beberapa waktu aku selalu pulang pergi ke rumah Ja’far ibn Muhammad, aku melihatnya selalu mengerjakan salah satu dari tiga hal berikut ini, yaitu (a) mengerjakan salat, (b) berpuasa atau (c) membaca Al-Qur’an.
Dan aku tidak pernah melihatnya ia menukil hadis tanpa wudlu’.” Keutamaan dan keagungan Imam Ja’far dikenal luas khalayak ramai. Abu Musa Jabir ibn Hayyan al-Tusi menulis sebuah buku setebal seribu halaman yang berisi ajaran-ajaran Imam Ja’far dan memuat lima ratus pembahasan. Imam Ja’far mendidik murid-muridnya sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasilnya, setiap orang dari mereka memiliki spesialisasi dalam ilmu-ilmu tertentu, seperti hadis, tafsir, fikih, dan kalam.
Beliau wafat di kota Madinah setelah diracun oleh Mansur al-Dawaniqi pada 25 Syawal 148 H/767 M, dalam usia 65 tahun. Beliau disemayamkan di pemakaman al-Baqi, yang terletak dekat Masjid Nabawi di Madinah.