Setelah Iman Ja’far as-Shadiq RA, guru rohani dalam silsilah Tarekat Naqsyabandiyah adalah Sayyidi Syaikh Abu Yazid al-Bistami QS. Sama seperti Imam Ja’far as-Shadiq, Syaikh Abu Yazid yang nama kecilnya Tayfur ibn Isa ibn Surusyan juga merupakan guru rohani bagi kelompok-kelompok (tarekat) lainnya.
Hal ini menjelaskan bahwa pada zaman beliau, pengamalan tasawuf belum terbagi dalam kelompok-kelompok terekat sufi. Syaikh Abu Yazid lahir di Bistam, sebelah tenggara Laut Kaspia, Iran pada 188H/804M (ada pendapat lahir 191H/807 M).
Syaikh Abu Yazid terkenal di kalangan kaum sufi, namun riwayat kehidupannya terbatas. Riwayat mengenai diri beliau banyak dikisahkan oleh keponakannya yang bernama Isa, yang selanjutnya diteruskan oleh anak keturunannya.
Selain itu, tokoh-tokoh lain yang pernah berjumpa dan mencatat ucapan ucapannya antara lain Abu Musa al-Dabili dan Abu Ishaq al-Harawi. Syaikh Abu Yazid sendiri tidak meninggalkan karya tulis kendati ia berusia panjang, 73 tahun.
Beberapa kali Syaikh Abu Yazid meninggalkan Bistam karena tekanan dan permusuhan dari pihak yang menganggap tasawufnya menyimpang. Tetapi hal itu hanya berlangsung relatif singkat, dan beliau kembali lagi ke Bistam hingga berpulang.
Makamnya di pusat kota Bistam, menarik banyak perhatian peziarah. Sebuah kubah didirikan di atasnya pada 713 H / 1313 M atas perintah Sultan Mongol, Muhammad Khudabanda, seorang sultan yang berguru pada Syaikh Syaraf al-Din, keturunan dari Syaikh Abu Yazid.
Kedua orangtua Syaikh Abu Yazid adalah Muslim yang taat, saleh, dan wara’ (lihat artikel). Syaikh Abu Yazid mendalami Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW pada masa mudanya. Ia kemudian mempelajari fikih Mazhab Hanafi sebelum menempuh jalan tasawuf. Beliau pernah mengajarkan fikih kepada Abu Ali al-Sindi, tetapi sebaliknya dari al-Sindi diterimanya pula ajaran tentang tauhid, hakikat dan fana’.
Sebagai orang yang mengerti hukum-hukum yang dikaji melalui fikih Mazhab Hanafi, kepatuhannya terhadap syariat sangat kuat. Hal ini dapat dipahami dari sejumlah pernyataan yang pernah diucapkannya. Beliau pernah berkata “Kalau Anda melihat seseorang sanggup melakukan pekerjaan keramat, seperti duduk bersila di udara, maka janganlah Anda terperdaya olehnya. Perhatikanlah apakah ia melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan menjaga dirinya dalam batas-batas syariat.”
Syaikh Abu Yazid pernah mengajak keponakannya, Isa dan Adam, untuk memperhatikan seseorang yang sudah dianggap zahid atau wali oleh masyarakat. Tatkala orang tersebut berada di dalam masjid dan batuk-batuk lalu meludah ke arah kiblat, Syaikh Abu Yazid mengajak pergi kedua keponakannya seraya berkomentar, “Orang itu tidak menjaga satu adab dari adab-adab yang diajarkan Rasulullah SAW. Bila ia begitu, bagaimana pula ia bisa dipercaya atas apa-apa yang didakwahkannya.”
Syaikh Abu Yazid sangat keras dalam menaati ajaran agama, dan kalau perlu menghukum dirinya bila melanggar. Pernah muncul keinginan dalam hatinya untuk memohon kepada Allah agar diberikan sikap acuh sama sekali terhadap makanan dan wanita, namun hatinya kemudian berkata, “Pantaskah aku meminta kepada Allah sesuatu yang tidak pernah diminta oleh Rasulullah SAW?” (BAM)

Ulasan dan Rujukan Buku terbaik yang layak dibaca
Kupas kesehatan dan permasalahannya sehari-hari, untuk pengetahuan
Kumpulan materi dari Forum Diskusi Baitul Amin, mencerahkan dan membebaskan
Ruang berbagi Teknologi Informasi untuk pemula dan pebisnis, IT ada di sekitar kita
Berbagi pengalaman dalam bisnis sebagai akhlak mulia, Bisnis dan Ibadah adalah kesatuan 
