Wednesday, May 23rd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Tentang Sejarah SIngkat
Sekilas Sejarah Baitul Amin

Sejarah Singkat Surau Baitul Amin

E-mail Print PDF

Prapanca

Surau Baitul Amin di Jakarta berdiri pertama kali pada tahun 1964 dan berlokasi di Jl. Prapanca Raya, Jakarta Selatan dengan sebidang tanah yang luasnya hanya kurang lebih 80 m2. Maksud pendirian Surau Baitul Amin adalah untuk pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah pimpinan YMM. Ayahanda Guru dan agar jama’ah yang makin lama bertambah khususnya daerah DKI Jakarta dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan ibadah di surau TN yang dikembangkan oleh YMM.Ayahanda Guru.

Perkembangan Surau Baitul Amin seiring berjalannya waktu memiliki para jama’ah yang menjadi tulang punggung , antara lain yang kita kenal, adalah : ALM. Abgda. Drs. H. Syahril Malik, ALM. Abgda. Dja’far Ali, SH., abgda. Yahya Depora, abgda. Tengku Asmaliun, abgda. H. Ahmad Abidin dan lainnya yang menjaga dan mengembangkan Surau Baitul Amin tersebut. Dan pada saat itu kegiatan I’tikaf di Surau Baitul Amin Prapanca telah berjalan dengan baik walaupun dengan kondisi yang minim fasilitas seperti sekarang. Contohnya untuk pengadaan air jamaah wirid dan suluk dengan cara menimba dari sumur setiap harinya oleh Ansor, termasuk, ALM. Abgda. Drs. H. Syahril Malik.

Cilandak

Pada tahun 1973, Surau Baitul Amin memperoleh sebidang tanah di daerah Jl. Cilandak Tengah no.8, Jakarta Selatan kurang lebih 660 m2 yang dibeli oleh YMM Ayahanda Guru. Kemudian pembangunan Surau dikerjakan secara perlahan dan bertahap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi jama’ah daerah tersebut. Kapasitas dari Surau Baitul Amin Cilandak lebih besar dari kapasitas Surau Baitul Amin Prapanca. Untuk diketahui juga bahwa penambahan jam’ah pun saat itu cukup meningkat dengan pesat.

Tahun 1974-1977, secara bertahap dilaksanakan perpindahan baik kegiatan kesurauan ataupun barang ke Surau Baitul Amin Cilandak disesuaikan dengan kondisi pembangunan. Pada tahun 1979 resmilah Surau Baitul Amin Cilandak dipergunakan sebagai tempat kegiatan ibadah satu-satunya dari Tarekat Naqsyabandiyah pimpinan YMM. Ayahanda Guru di Jakarta. Pada saat itu pula YMM. Ayahanda Guru berkenan hadir dan menempati Surau Baitul Amin Cilandak. Sedangkan lokasi di Jl. Prapanca Raya dikembalikan kepada pemiliknya.

Tahun berlalu demi tahun, waktu dilewati hari demi hari, Surau Baitul Amin berfungsi dengan baik untuk perkembangan dan kegiatan ibadah Tarekat Naqsyabandiyah sehingga jumlah jama’ah pun berkembang dan mempunyai jumlah yang sangat banyak. Sesudah 10 tahun Surau Baitul Amin Cilandak berjalan, terlihat kapasitasnya sudah tidak mencukupi untuk kegiatan jama’ah serta kondisi semakin padatnya perumahan dan jumlah penduduk di sekeliling surau.

Sawangan

Cikal bakal Surau Baitul Amin Sawangan adalah dari sepetak tanah yang dibeli YMM. Ayahanda Guru tahun 1979 di daerah Sawangan yang dulu masih berada dibawah kabupaten Bogor waktu Beliau berjalan ke daerah tersebut. Serta sepetak tanah yang dimiliki jama’ah Bpk. ALM. Soedarjadi. Sebagai wawasan, arti kata dari 'SAWANGAN' (Bhs. Sunda) dalam Bahasa Indonesia adalah 'konsentrasi'. Jadi daerah ini sepertinya memang merupakan 'daerah untuk berkonsentrasi'.

Pembangunan Surau Baitul Amin Sawangan berawal dari inisiatif Ketua Alkah Surau Baitul Amin Alm. Abgda. Drs. H. Syahril Malik pada tahun 1989. Berdasarkan cerita alm. Bang In Malik, modal awal pembangunan Surau di Sawangan hanyalah 1 sak semen.

Dengan niat ubudiyah, proses dan kegigihan yang tinggi maka lama kelamaan Surau Baitul Amin Sawangan menjadi surau yang sangat layak dikemudian hari sebagaimana yang kita ketahui dan rasakan sekarang. Pada pertengahan tahun 1991 surau Sawangan telah dibuat pemanasan dalam kegiatan ibadah seperti wirid ataupun kegiatan lainnya. Peresmian Surau Baitul Amin dilaksanakan pada tahun 1992 oleh YMM. Ayahanda Guru dan Menko Kesra Ir. H. Azwar Anas dan dihadiri puluhan ribu jama’ah yang berdatangan baik dari Jakarta ataupun daerah-daerah lainnya serta diadakan juga sebuah seminar internasional tentang tasauf islam di Surau Baitul Amin Sawangan.

Resmilah secara keseluruhan kegiatan ibadah dari Tarekat Naqsyabandiyah dilaksanakan di Surau Baitul Amin Sawangan sampai saat ini. Dan bekas Surau Baitul Amin Cilandak di rawat dan dipergunakan sebagai tempat transit dari YMM. Ayahanda Guru, YM. Buya dan juga YM. Abu.

Dan sampai saat ini pembangunan Surau Baitul Amin terus dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan jama’ah agar dapat beribadah dengan baik. Seperti diketahui terdapat pabrik air minum Amin Sam, ruang rapat, ruang serbaguna yang dapat dipergunakan untuk pernikahan, parkir yang memadai dan perpustakaan serta fasilitas lainnya yang dapat kita rasakan….Alhamdulillahirabbilalamiin.

Seiring dengan waktu, kepengurusan Surau Baitul Amin pun berganti dikarenakan Abang kita yang tercinta, Abangda Drs. H. Syahril Malik, telah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 16 Januari 2005. Dan sejak saat itu kepengurusan Surau Baitul Amin dipegang oleh YM. Abu H. Abdul Khalik Fajduani sendiri sebagai Pengurus I dan H. Ahmad Adinegoro sebagai Pengurus II, sedangkan untuk Kepala Rombongan Anak Surau adalah H. Akhmad Syukran Bestari (Bg. Ary – putra dari ALM. Drs. H. Syahril Malik). Kejadian itu banyak memukul hati banyak orang, tetapi perkembangan tarekat harus berjalan terus. Dan sampai sekarang yang kita ketahui bahwa Surau Baitul Amin berkembang dengan baik dilihat dari sisi manajemen, sumber daya manusia dan kebudayaan/lingkungan jama’ah yang sangat solid dan harmonis.

Alhamdulillah kita yang dapat merasakan hal tersebut agar bersyukur dan harus menjaga Surau dimanapun kita berada. Mari kita buktikan kepada para pendahulu kita yang sudah mencontohkan tentang apa itu pengabdian dan karya

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS
Share/Save/Bookmark